
Sumber: Unsplash.com/Vienna Reyes
SABANEWSINDO.com – European Super League dipastikan bisa bergulir tanpa perlu khawatir dengan ancaman dari UEFA dan FIFA. Pengadilan Uni Eropa telah menyatakan kalau pelarangan yang dilakukan kedua federasi tersebut tidaklah sah.
Wacana soal digelarnya European Super League sudah mulai dicanangkan sejak lama. Namun, mereka baru benar-benar go public pada tahun 2021 lalu, dengan keikutsertaan 12 klub papan atas Eropa.
Sontak rencana European Super League mendapatkan penolakan dari berbagai kalangan, khususnya pendukung setia dari 12 klub yang terlibat. Bahkan beberapa fans klub sampai turun ke jalan untuk menunjukkan ketidaksetujuannya.
Karena desakan publik, 10 dari 12 klub tersebut memutuskan untuk mencabut keikutsertaannya dari kompetisi. Termasuk Juventus, diketahui sebagai salah satu dalang European Super League, menjadi klub terakhir yang mundur.
Situasi ini membuat UEFA dan FIFA berada di atas angin. Mereka tampak ingin menghilangkan European Super League sepenuhnya dengan mengeluarkan ancaman kepada setiap pemain dan klub yang terlibat.
Baca juga: 23 Klub Dipastikan Tetap Menolak Kehadiran European Super League
Kedua federasi itu juga melarang adanya penyelenggaraan European Super League. Lantas, pelarangan tersebut dibawa ke meja hukum. Proses berlangsung panjang hingga Pengadilan Uni Eropa menyatakan pelarangan tidak sah.
Kini giliran European Super League yang berada di atas angin. CEO kompetisi, Bernd Reichart, mengatakan bahwa beberapa klub telah menyatakan dukungan terhadap proyek ESL. Hanya belum diumumkan secara resmi saja.
Reichart juga tampaknya telah menghubungi sejumlah klub lain dan mendapatkan penolakan. Ia percaya bahwa klub lain harus terpaksa menolak ikut serta di ajang European Super League lantaran mendapatkan intimidasi.
“Proposal Super League terbaru bisa terjaei dengan kontribusi dari banyak klub, kami telah berbicara dengan banyak klub dalam beberapa bulan ini,” kata Reichart seperti yang dikutip Goal International.
“Namun klub-klub ini takut untuk muncul ke publik karena adanya beberapa ancaman. Banyak klub mendukung proyek ini. Klub telah berada di bawah monopoli selama 70 tahun, diktator bertangan besi,” lanjutnya.
“Kami harus mengubah chip-nya. Wajar jika membutuhkan waktu lama, namun ini adalah kesempatan yang bagus buat klub untuk mengurus masa depannya.”
Sebelum ini juga, sempat beredar kabar bahwa European Super League akan melibatkan klub-klub dari Arab Saudi. Reichart dengan tegas menampik rumor tersebut dan mengatakan kalau ESL hanya akan diikuti klub Eropa saja.
“Klub Arab Saudi di Super League? Tidak akan ada klub non-Eropa yang terlibat di Super League. Hanya klub Eropa saja,” pungkasnya.
(Goal International)