
Sumber: Instagram @yamahamotogp
SABANEWSINDO.com – Ducati bersama tim satelitnya berhasil mendominasi ajang MotoGP musim lalu. Sampai-sampai salah satu pembalapnya, Francesco Bagnaia, berhasil keluar sebagai juara dunia dengan bertengger di puncak klasemen cukup lama.
Dominasi Ducati semakin terlihat dalam persaingan Bagnaia dengan pembalap lainnya, Jorge Martin. Seperti diketahui, Martin beberapa kali memepet sang juara sampai menjelang seri terakhir kompetisi.
Jika cakupannya diperluas, dominasi Ducati sudah terlihat bahkan sejak tahun 2022 lalu. Bagnaia juga berhasil keluar sebagai juara, diikuti Fabio Quartararo dari Yamaha yang menempati posisi kedua.
Quartararo sendiri hanya mampu finis di peringkat 10 dalam klasemen akhir MotoGP pada musim kemarin. Kemunduran yang dialami Yamaha semakin memperkokoh dominasi Ducati sebagai tim terbaik di pentas tersebut.
Namun perlu dicatat bahwa dominasi tidak akan selamanya terjadi. Pembalap Yamaha, Cal Crutchlow, memperingatkan bahwa Yamaha masih bisa bangkit dan merebut dominasi Ducati di pentas MotoGP.
Baca juga: Fabio Quartararo: Setiap Musim, Target Saya Adalah Juara Dunia!
“Kita tahu bahwa Yamaha dan Honda bisa membangun motor terbaik di dunia karena mereka telah melakukan itu selama bertahun-tahun,” tutur pembalap asal Inggris tersebut seperti yang dikutip Crashnet.
“[Jangan lupa], selama 15 tahun Ducati tidak pernah menang [gelar, dari 2007-2022], Aprilia tidak diketahui keberadaannya untuk waktu yang lama dan KTM hanya baru-baru ini menjadi sangat, sangat kuat.”
“Situasinya akan berbalik. Dalam lima tahun mungkin para tim asal Jepang kembali ke depan dan sisanya bakal tidak terlihat lagi. Memang begitu balapan.”
“Anda harus memberi ucapan selamat kepada mereka [tim Eropa] atas apa yang mereka lakukan untuk bisa berada di depan sekarang, tapi saya percaya Yamaha dan Honda adalah pabrikan yang bagus, tahu cara membangun motor dan punya teknisi handal.”
“Masalahnya adalah mereka harus mengubah cara bekerja dari sekarang karena permainan telah berubah dan memang begitu realitanya,” pungkas Crutchlow.
(Crashnet)