
Sumber: Instagram @jorgelorenzo99
SABANEWSINDO.com – Jorge Lorenzo bergabung dengan Ducati pada waktu yang salah. Ketika itu, Ducati belum menemukan formula pasti untuk mencapai kesuksesan. Bahkan dominasi yang terjadi di musim 2023 kemarin pun belum terpikirkan.
Ya, Lorenzo bergabung dengan Ducati pada tahun 2017 usai menikmati masa kejayaannya bersama Yamaha. Ia diharapkan bisa memberikan keberuntungan. Namun sayangnya, Lorenzo selalu gagal finis di tiga besar klasemen akhir MotoGP.
Pencapaiannya benar-benar merosot ketika bergabung dengan Ducati. Dalam lima tahun sebelum memilih pindah, Lorenzo bisa menjadi juara dunia sebanyak dua kali bersama Yamaha. Lalu di Ducati, ia hanya menempati peringkat tujuh dan sembilan.
Setelah dua musim, Lorenzo kemudian memutuskan untuk pindah ke Repsol Honda. Ia finis di peringkat ke-19 pada musim 2019 dan memutuskan pensiun begitu kompetisi berakhir.
Lorenzo mungkin tidak menikmati masa-masanya sewaktu memperkuat Ducati. Namun tidak bisa dimungkiri bahwa pria berdarah Italia tersebut juga terlibat dalam proses kebangkitan Ducati hingga menjadi yang sekarang.
Baca juga: Impian Terpendam KTM: Memiliki Marc Marquez
Ia kemudian berbicara soal performa motor Ducati yang digunakan ketika masih aktif balapan dulu. Dari situ, sudah terlihat bahwa ada potensi Ducati bakal mendominasi pagelaran MotoGP di masa mendatang.
“Pada tahun 2018, semua sudah jelas ketika Ducati memberi saya bagian yang dibutuhkan untuk merasa nyaman dan, kurang lebih, saya sudah terbiasa dengan mengendarainya,” kata Lorenzo kepada AS.
“Ducati yang itu sedikit kurang komplit dibandingkan dengan yang sekarang. Belum menjadi motor terbaik, tapi sudah jelas paling cepat. Saya mampu memenangkan tiga dari lima atau enam balapan,” lanjutnya.
Lorenzo sudah bisa melihat potensi Ducati ketika Luigi Dall’Igna memutuskan bergabung. Kehadirannya juga yang membuatnya jadi yakin untuk pindah saat itu. Sebab ia percaya, Dall’Igna akan menciptakan motor terbaik cepat atau lambat.
“Saya memutuskan untuk pindah ke Ducati karena saya tahu bahwa, cepat atau lambat, Gigi akan mendapatkan motor terbaik. Sayangnya, dia terlambat mendapatkannya. Tapi hei, pad aakhirnya, Dall’Igna bisa menjadi juara dunia,” tutupnya.
(AS)