
Sumber: Instagram @chelseafc
SABANEWSINDO.com – Kedatangan Todd Boehly di kursi kepemilikan mengubah wajah Chelsea pada bursa transfer musim panas. Mereka tidak lagi mencari pemain berpengalaman, tetapi sosok-sosok muda yang dirasa punya potensi.
Strategi transfernya terlihat pada musim panas tahun lalu, di mana mereka menghabiskan hampir 500 juta euro. Christopher Nkunku, Axel Disasi, dan Roberto Sanchez, dengan usia 25 tahun, menjadi pemain tertua dalam daftar belanjanya.
116 juta di antaranya dialokasikan untuk merekrut Moises Caicedo, yang baru berusia 21 tahun, dari Brighton. Namun hingga sekarang, para pemain muda ini belum memberikan kontribusi maksimal untuk klub.
Chelsea benar-benar terpuruk di musim ini. Mereka berkutat di papan tengah klasemen sementara dan sudah mencatatkan 10 kekalahan dari 27 laga. Jadi, untuk sekarang, bisa dikatakan bahwa strategi transfer The Blues gagal.
Kebijakan transfer Chelsea ini kemudian mengundang perhatian Frank Lampard. Ia mengenang kembali masa saat dirinya masih bermain, di mana para pemain muda hanya diberi kesempatan duduk di bangku cadangan.
Baca juga: Pochettino Kian Terancam, Chelsea Bidik Dua Calon Pelatih Baru
“Menurut saya akan sulit untuk terus maju dengan cepat seperti yang orang-orang harapkan, dan itu sudah terbukti,” kata Lampard saat jadi pembicara dalam siniar ‘Unfiltered’, dikutip Goal International.
“Jadi saya pikir anda harus berhati-hati menyalahkan pelatih atau mungkin pemain muda yang sedang mencoba mencari performanya di dalam tim yang belum memiliki sosok andalan dan bisa diteladani.”
“Strateginya adalah mendatangkan pemaim muda, anda memiliki anak-anak yang masuk pada usia 21 tahun dari negara lain, mencoba masuk ke dalam tim. Saya tidak akan bicara soal ‘era saya’…,” lanjutnya.
“Tapi di era saya, ketika anda membawa pemain muda ini, mereka duduk di bangku cadangan atau berlatih dan melihat betapa kuatnya persaingan di sesi latihan. Mereka melihat Drogba atau merasakan berlatih bersama John Terry dan bagaimana dia memimpin klub, dan mereka belajar untuk masuk ke dalam tim atau tidak bisa menembusnya.”
“Meminta pemain melakukan itu sembari berkembang bukan hal yang mudah. Jadi saya pikir harus berhati-hati, saya pikir strateginya sendiri akan dipertanyakan,” pungkasnya.
(Goal International)