
Sumber: Instagram @hokkycaraka_
SABANEWSINDO.com – Krisis di tubuh Timnas Indonesia terlihat jelas pada ajang Piala Asia 2023 kemarin. Mereka benar-benar kekurangan sosok penyerang yang bisa diandalkan untuk menjadi tumpuan di lini depannya.
Pada kompetisi tersebut, Shin Tae-yong selaku pelatih Timnas Indonesia harus memainkan Rafael Struick sebagai striker utama. Padahal, ia dikenal terbiasa memainkan peran sebagai second striker ataupun winger.
Namun sosok seperti Ramadhan Sananta dan Hokky Caraka belum cukup berpengalaman. Bahkan saking kurangnya stok penyerang, Shin Tae-yong sempat memainkan Elkan Baggott yang notabene seorang bek tengah di posisi tersebut.
Shin Tae-yong sendiri telah ditugaskan oleh Ketua PSSI, Erick Thohir, untuk mencari striker diaspora yang bisa dinaturalisasi. Kini arsitek asal Korea Selatan itu pun menjalankan perjalanan dinas ke Eropa demi mendapatkan pemain yang dibutuhkan.
Apakah Indonesia benar-benar kekurangan sosok striker lokal yang berkualitas? Jawabannya tercermin dalam daftar top skor Liga 1 musim ini. Tidak ada nama pemain lokal yang tercantum dalam lima posisi teratas pencetak gol terbanyak saat ini.
Baca juga: Proses Naturalisasi Maarten Paes Baru Bisa Kelar Bulan Juni 2024, Kenapa?
Berbeda dengan dulu, di mana Timnas Indonesia memiliki sejumlah pemain-pemain berkualitas. Sebut saja Bambang Pamungkas, Boaz Solossa, hingga Ilham Jaya Kesuma. Nama terakhir pun ikut prihatin dengan situasi sekarang.
Baru-baru ini, Ilham Jaya Kesuma angkat bicara soal minimnya stok penyerang lokal berkualitas di Timnas Indonesia. Ia pun memberikan saran terkait cara untuk mengembangkan bakat-bakat muda agar siap beraksi di pentas internasional.
“Ketika kita memiliki sistem kompetisi usia muda, kita pasti akan memiliki striker-striker lokal yang andal. Karena mereka tercipta di kompetisi usia muda ini,” kata Ilham Jaya Kesuma kepada Bola.com.
“Ketika nanti mereka sudah mendapatkan menit bermain yang reguler di kompetisi U-20 atau bahkan U-23, mereka sudah akan terbiasa saat nantinya masuk ke jenjang senior,” lanjut mantan pemain Persita dan Mitra Kukar tersebut.
“Sementara saat ini, sifatnya masih terlalu instan. Klub hanya menyiapkan pemain muda di klub senior karena sempat ada regulasi pemain U-23. Akhirnya hanya seperti menggugurkan kewajiban saja,” pungkasnya.
(Bola.com)