
Sumber: Getty/Darren Walsh
SABANEWSINDO.com – Chelsea mengalami perubahan yang cukup masif menjelang berakhirnya Premier League musim 2023/24. Mereka berhasil mencatatkan sederet kemenangan penting yang membuat harapan bermain di kompetisi Eropa musim depan terbuka.
Seperti diketahui, Chelsea sempat mengalami masa compang-camping lantaran dihantam dengan sejumlah hasil buruk. Mereka bahkan beberapa kali terdampar dari 10 besar klasemen Premier League karena sederet kemalangan ini.
Namun pergantian tahun berhasil membalikkan nasibnya. Sejak laga kontra Fulham, laga pertamanya di tahun 2024 ini, mereka cuma mencatatkan tiga kekalahan saja. The Blues juga berhasil menyapu bersih empat partai terakhirnya dengan kemenangan.
Sederet rekor positif ini membuat Chelsea bisa merangkak naik hingga ke peringkat enam dalam klasemen sementara Premier League. Mereka hanya butuh satu kemenangan untuk bisa memastikan diri tampil di pentas Eropa musim depan.
Tentu saja, itu adalah sebuah pencapaian yang patut dihargai. Terlebih jika melihat bagaimana situasi Chelsea pada paruh pertama musim ini. Namun sang pelatih, Mauricio Pochettino, enggan merasa puas sepenuhnya dengan apa yang diraih timnya.
Baca juga: Ingin Mauricio Pochettino Bertahan, Begini Saran Cole Palmer Untuk Skuad Chelsea
“Kami sudah berbicara pada pagi ini – ini tidak cukup buat kami. Kami tidak akan merayakan dan mengambil gambar dengan finis di peringkat lima atau enam dan Eropa,” kata Pochettino kepada awak media, seperti dikutip Goal International.
“Ini tidak cukup buat klub. Ini tidak cukup bagi pemilik klub, direktur olahraga, ataupun pemain. Tapi dengan semua situasi yang terjadi, saya merasakan kepuasan,” tutur pria berdarah Argentina tersebut.
Ketika Chelsea sedang compang-camping, Pochettino menjadi sasaran mudah untuk label ‘biang kerok’ kemalangan. Tentu saja, hal ini membuatnya selalu berada di posisi terpojok setiap kali The Blues menelan hasil buruk.
Pochettino tidak pernah memungkiri kalau dirinya berpotensi dipecat pada akhir musim. Pertanyaan terkait masa depan selalu dijawabnya dengan tenang. Namun dalam konferensi pers terbaru, ia tidak memungkiri kalau dirinya sempat ketakutan.
“Bisakah saya jujur? Setelah Wolves, ingat apa yang terjadi setelahnya? Kami sendirian di sana, menunggu, selama dua jam. Itu waktu yang panjang, kami saling melihat satu sama lain, lima staf kepelatihan, dalam ruangan yang sangat kecil.”
“Kami merasa sedih. Itu situasi yang tidak adil dan tak pantas kami terima, tetapi hasilnya membuat kami berada di dalam situasi yang sangat sulit. Masalahnya adalah keadaannya,” pungkasnya.
(Goal International)