
Sumber: Getty/Alex Caparros
SABANEWSINDO.com – Real Madrid gagal mendapatkan hasil yang memuaskan di pekan perdana La Liga belum lama ini. Melawan Mallorca, klub besutan Carlo Ancelotti tersebut di luar dugaan cuma bisa mengantongi hasil imbang 1-1.
Klub berjuluk Los Merengues tersebut sempat unggul lebih dulu melalui aksi sang penyerang, Rodrygo Goes. Keunggulan bertahan cukup lama sampai pemain Mallorca, Vedat Muriqi, menyamakan skor pada menit ke-53.
Hasil ini tentu mengecewakan. Sebab pada pertandingan tersebut, Real Madrid menurunkan skuat terbaiknya. Bahkan sang rekrutan anyar, Kylian Mbappe, juga tampil sejak menit awal untuk memimpin lini depan Los Merengues.
Bintang asal Prancis itu menjadi target kritikan setelah gagal mencetak gol dalam laga debutnya di La Liga. Padahal, ia mampu mencatatkan empat tembakan yang dua di antaranya berhasil menemui sasaran.
Lantas, apakah ini hanya salah Mbappe semata? Ancelotti memiliki opininya sendiri. Pada konferensi pers pasca laga, pria berkebangsaan Italia itu sempat menyoroti komitmen para pemainnya di lapangan.
Baca juga: Nico Paz Di Ambang Pintu Keluar Real Madrid, Como 1907 Siap Menampung
Real Madrid memainkan formasi 4-3-3. Namun bentuknya bisa berubah menjadi 4-2-4 ketika menyerang, dan kemudian berbalik menjadi 4-4-2 saat bertahan. Masalahnya terletak pada Rodrygo Goes dan Jude Bellingham.
Dalam transisi dari menyerang ke bertahan, Ancelotti mengharapkan Rodrygo dan Bellingham bertanggung jawab dalam pembuatan bentuk 4-4-2. Mallorca melihat celah itu dan mengeksploitasi area kedua pemain.
Ada ketakutan bahwa masalah yang terjadi di PSG ketika masih diperkuat Kylian Mbappe, Neymar dan Lionel Messi terjadi di Real Madrid. Ketiganya seringkali terlihat tidak terlibat ketika tim berada dalam fase bertahan.
Pada akhirnya, masalah berujung pada keseimbangan tim dalam transisinya. Dan ini sempat disinggung oleh Ancelotti. “Ketika saya bicara soal pertahanan, kita bicara soal sikap dan komitmen kolektif,” tuturnya.
Dengan berisikan banyak bintang, Real Madrid tentu bisa mengalami masalah seperti PSG. Sehingga lelucon “Kita tak perlu menjadi PSG” yang terdengar di sekitaran Valdebebas bisa dianggap setengah serius dan setengah bercanda.
(Football Espana)