
Sumber: Instagram @chelseafc
SABANEWSINDO.com – Chelsea kalah dari Liverpool yang bertanding tanpa 10 pemain inti karena cedera. Meski begitu, mereka tetap bertekuk lutut dan kalah dengan skor 0-1. Kekalahan ini membuatnya gagal meraih gelar Carabao Cup.
Duel yang berlangsung di Wembley Stadium itu berjalan cukup sengit. Baik Chelsea maupun Liverpool sama-sama memiliki banyak peluang emas. Namun tak satupun bisa dimanfaatkan sampai 90 menit berakhir.
Alhasil, pertandingan berlanjut sampai babak perpanjangan waktu. Pemenang tampaknya akan ditentukan melalui drama adu penalti, sampai Virgil van Dijk membuat gemuruh stadion dengan golnya pada menit ke-118.
Sudah jelas, Chelsea menjadi tim yang banyak disorot. Sebab mereka punya skuat mumpuni ketimbang Liverpool yang tidak diperkuat 10 pemain inti. Ditambah lagi, di babak perpanjangan waktu, Liverpool harus memasukkan banyak pemain muda.
Pochettino mengakui bahwa timnya kelelahan. Karena faktor itu, mereka tidak ingin memaksakan diri dan mencoba untuk membawa pertandingan berlanjut ke drama adu penalti. Strategi mereka adalah merain kemenangan di babak itu.
Baca juga: Respon Chelsea Soal Sindiran ‘Tukang Botol Miliaran Pounds’: Saya Tidak Dengar!
“Para pemain mulai kehilangan energinya. [Ben Chilwell] Chilly merasa sangat, sangat lelah. [Conor] Gallagher, setelah lima menit, kami harus melakukan pergantian. Tim merasa mungkin penalti bagus buat kami,” katanya dikutip Goal International.
Kegagalan ini diyakini Pochettino bisa menjadi pelecut motivasi bagi para pemain Chelsea untuk meraih kesuksesan lainnya. Untuk saat ini, The Blues harus segera melupakan kekalahan dari Liverpool.
“Mereka orang profesional. Sekarang kami harus maju ke depan, tapi mereka harus merasakan sakit ini. Ketika anda bermain untuk trofi, tidak ada kata-kata yang bisa membuat mereka merasa lebih baik.”
“Mereka harus menyadari bahwa kami harus memperbaiki diri, kami harus melakukan dengan lebih baik dan berkembang. Untuk bersaing pada level ini, anda harus merasakan arti dari bermain demi trofi besar.”
“Saya ingat bahwa setelah tiga atau empat tahun [di bawah asuhan Jurgen Klopp] Liverpool menelan kekalahan di final Liga Europa dan kalah pada final Liga Champions. Tapi mereka tetap percaya pada proyeknya dan menjadi lebih kuat setiap musim sampai mendapatkan yang diinginkan,” pungkasnya.