
Sumber: Instagram @chelseafc
SABANEWSID.com – Kekecewaan tersirat dari perkataan pelatih Chelsea, Mauricio Pochettino, usai melihat anak asuhnya tumbang di hadapan Newcastle dalam laga lanjutan Premier League hari Sabtu (25/11/2023). Seperti diketahui, the Blues kalah telak 1-4.
Gawang yang dikawal Robert Sanchez sudah jebol sejak laga berjalan 13 menit karena aksi striker the Magpies, Alexander Isak. Di titik ini, Chelsea masih bisa memberikan perlawanan dan menyamakan kedudukan lewat Raheem Sterling.
Mimpi buruk hadir ketika babak kedua dimulai. Chelsea kebobolan dua kali dalam rentang waktu singkat karena aksi Jamaal Lascelles dan Joelinton, di mana mereka mencetak gol masing-masing di menit ke-60 dan 61.
Reece James sukses memperkeruh situasi dan menghapus harapan Chelsea mengejar ketertinggalan. Ia harus keluar lapangan lebih dini setelah wasit menunjukkan kartu merah di hadapannya.
Newcastle kemudian mengunci kemenangan melalui aksi Anthony Gordon pada menit ke-83. Mengejar ketertinggalan tiga gol tentu tidak mudah, apalagi dengan 10 pemain. Alhasil, Chelsea harus menerima kekalahan telak ini.
Baca juga: Osimhen Kemahalan, Chelsea Siapkan Striker Ini Sebagai Alternatif
Pochettino menemui awak media usai pertandingan untuk memberikan komentar perihal permainan anak asuhnya. Pria asal Argentina itu terlihat kecewa, sampai membatalkan hari libur untuk para pemain.
“Terkadang tim anda butuh situasi seperti ini untuk terjadi agar bisa menyadari [standar yang dibutuhkan],” kata pria yang juga pernah melatih Tottenham tersebut, seperti dikutip Metro Sports.
“Kami membicarakan ini di ruang ganti, setelah pertandingan, karena normalnya kami harus langsung menuju hotel dan tidur lalu mulai berlatih lebih cepat di pagi besok, dan tidak ada hari libur,” lanjutnya.
Namun Pochettino enggan menjadikan ini sebagai kesalahan anak asuhnya saja. Ia merasa punya tanggung jawab atas kekalahan telak tersebut, dan berusaha memetik pelajaran dari hasil ini.
“Saya pikir kami tidak boleh [hanya] menyalahkan pemain, kami harus menyalahkan diri sendiri bersama-sama. Dan saya pikir ini adalah proses belajar dan memahami bahwa jika kami ingin bersaing di level yang orang-orang inginkan, maka kami harus menjadi lebih kuat.”
“Dan tentu saja belajar dari situasi semacam ini. Kami punya skuat yang sangat bertalenta, tapi bersaing adalah hal yang berbeda ketimbang sekadar bermain,” pungkasnya.
(Metro Sports)