
Sumber: Situs resmi PSSI
SABANEWSINDO.com – Langkah PSSI menaturalisasi pemain keturunan membuat mantan pemain Timnas Indonesia di era 90’-an, Maman Suryaman, jadi mengernyitkan dahi. Sebab ia merasa tidak sepakat dengan kebijakan tersebut.
Bukan sesuatu yang mengherankan. Sebab pasca gantung sepatu, Maman Suryaman menunjukkan kepeduliannya pada pengembangan pemain muda. Ia bahkan sempat menjabat sebagai pelatih Timnas Indonesia U-16.
PSSI terbilang getol menaturalisasi pemain asing. Pada ajang Piala Asia 2023 kemarin, terdapat tujuh pemain naturalisasi dan satu keturunan di dalam skuatnya. Dan masih akan ada lagi pemain yang dalam proses naturalisasi.
Kebijakan ini memang mudah untuk mengundang sentimen. Sebab, langkah tersebut diyakini bisa mematikan potensi-potensi yang dimiliki para pemain lokal. Pemikiran serupa juga dimiliki oleh Maman.
“Saat ini, regulasi pemain asing di Indonesia makin banyak. Liga 1 ada total 6 pemain asing. Liga 2 juga ada. Kesempatan bermain buat pemain lokal jadi sedikit,” tutur Maman seperti yang dikutip Bola.com.
Baca juga: PSS Sleman Keberatan Jika Hokky Caraka Turut Membela Timnas Indonesia U-23
“Sementara di Timnas Indonesia, ada pemain naturalisasi. Padahal jam terbang itu penting. Kalau naturalisasi atau pemain asing di Liga 1 kualitasnya sama saja, buat apa?” lanjutnya.
Terlepas dari itu, Maman tetap menganggap ada peningkatan yang cukup signifikan dalam sepak bola Indonesia. Buktinya terlihat dalam keikutsertaan Skuat Garuda di ajang Piala Asia 2023 kemarin.
Di luar dugaan, pasukan Shin Tae-yong berhasil keluar dari grup Neraka yang berisikan Vietnam, Jepang dan Irak. Modal satu kemenangan berhasil membantu mereka melangkah ke babak 16 besar.
Akan tetapi, Maman tetap menilai sepak bola Indonesia masih memiliki banyak PR untuk segera dituntaskan. Sebab menurut dia, sepak bola Indonesia saat ini masih tertinggal dibanding dengan negara ASEAN lainnya seperti Vietnam dan Thailand.
“Indonesia memang berkembang. Namun, Vietnam dan Thailand saya rasa perkembangannya lebih pesat. Jadi, harus segera dikejar. Perbaikan dari kompetisi, tim kepelatihan, dan banyak hal lainnya,” pungkasnya.
(Bola.com)