
Sumber: Instagram @fabioquartararo20
SABANEWSINDO.com – Fabio Quartararo mengalami banyak momen naik dan turun dalam kariernya di MotoGP, khususnya pada beberapa tahun terakhir. Ia sempat juara, dan kemudian gagal finis di posisi terbaik pada musim berikutnya.
Setelah menjadi unggulan dan gagal keluar sebagai pemenang di tahun 2020, Quartararo lantas menjadi juara dunia pada seri 2021. Lalu, di tahun 2022, ia memulai dengan apik sebelum akhirnya menjadi runner up di bawah Francesco Bagnaia.
Tahun 2023 menjadi yang terburuk buat pembalap berdarah Prancis tersebut. Ia hanya menginjakkan kaki di podium tiga kali di sepanjang kompetisi, dan berakhir pada peringkat ke-10 dengan total perolehan 172 poin.
Di musim lalu, Quartararo beberapa kali mengeluhkan performa motor dari Yamaha. Bahkan, ia juga pernah mengutarakan niat untuk berganti klub pada tahun 2025 jika tak ada peningkatan dari kuda besinya.
Terlepas dari itu, Quartararo selalu memegang prinsip untuk keluar sebagai juara di setiap tahunnya. Sebab dengan begitu, ia bisa menciptakan senyum di raut wajah tim yang bekerja dengannya.
Baca juga: Kedatangan Marc Marquez Bisa Bikin Ducati Mendominasi di MotoGP 2024
“Setiap musim saya menaiki motor, tujuan saya adalah menjadi juara dunia. Mungkin saya tidak akan meraihnya, tapi itu selalu menjadi mindset saya di awal musim,” tutur Quartararo kepada Monster Energy.
“Buat saya sikap seorang juara dunia atau atlit papan atas adalah selalu memberikan senyuman kepada orang-orang yang bekerja bersama anda.”
Perjalanan Quartararo untuk menjadi seorang pembalap kelas atas terbilang cukup panjang. Quartararo kecil membutuhkan persaingan lebih besar dari yang tersedia di Prancis, kemudian memilih hijrah ke Spanyol bersama sang ayah.
“Saya masuk dalam dunia balapan karena ayah saya pernah balapan di masa lalu. Dia bukan pembalap berlevel tinggi tapi pada dasarnya dia memasukkan saya ke dalam dunia itu secara langsung dan saya menyukainya.”
“Untuk mengembangkan diri sendiri seperti seorang pembalap profesional, bersama ayah, kami memutuskan untuk menuju kejuaraan di Spanyol karena mereka memiliki pembalap level tinggi pada usia muda.”
“Langkah demi langkah, saya bergerak naik sampai tiba di kejuaraan dunia. Kemudian saya masuk ke Moto3, Moto2, dan kemudian kelas besar,” pungkasnya.
(Crashnet)