
Sumber: Instagram @mrancelotti
SABANEWSINDO.com – Tekanan terhadap pelatih sedang menjadi topik perbincangan hangat dalam dunia sepak bola saat ini. Masalah ini dimulai saat Xavi Hernandez, secara mengejutkan, memilih mundur dari jabatannya sebagai pelatih Barcelona.
Xavi tiba-tiba mengumumkan pengunduran dirinya ketika menghadiri konferensi pers pasca Barcelona menghadapi Villarreal. Jauh dari bayangan awak media yang meyakini Xavi akan berbicara soal kekalahan klubnya dengan skor 3-5.
Akan tetapi, Xavi tidak langsung mundur begitu komentarnya terlontar di hadapan publik. Pria asal Spanyol itu mengatakan bahwa dirinya akan tetap menduduki kursi kepelatihan Spotify Camp Nou sampai musim 2023/24 berakhir.
Xavi disebut-sebut tidak tahan dengan tekanan di Barcelona. Sejumlah pelatih kemudian berbicara soal tekanan tersebut. Salah satunya terlontar dari Josep Guardiola, yang dulunya juga pernah menukangi Barcelona.
“Menurut pengalaman saya, anda tidak bisa membandingkan tekanan di Inggris dan Spanyol. Ribuan kali lebih sulit untuk melatih di Spanyol ketimbang di sini,” kata Josep Guardiola, yang sekarang menukangi Manchester City.
Baca juga: Lagi di Puncak La Liga, Girona Malah Merendah: Kami Tidak Selevel Real Madrid!
“Ini adalah tempat ideal buat pelatih. Tekanan yang dirasakan di Barcelona tidak bisa dibandingkan dengan klub lain. Saya sangat memahami Xavi,” lanjutnya.
Ketika bicara soal tekanan, pengalaman mungkin akan bicara banyak. Carlo Ancelotti yang sudah lama melanglang buana sebagai pelatih telah merasakan banyak tekanan dan hanya menganggap itu sebagai hal normal.
“Saya hanya ingin mengatakan satu hal dan tidak ingin membandingkan. Kami [para pelatih] punya pekerjaan yang fantastis, dengan tekanan, yang di mana itu normal,” kata Ancelotti seperti dikutip dari Football Espana.
“Entah itu Xavi atau siapapun. Saya memahami [keputusan Xavi]. Saya menghormati keputusan dan pemikirannya. Itu saja, saya tidak ingin membanding-bandingkan,” pungkasnya.
Ancelotti tampaknya sudah paham betul dengan tekanan yang ada di Spanyol. Bahkan untuk pelatih sekaliber dirinya, ia pernah merasakan pahitnya pemecatan ketika menukangi Real Madrid pada tahun 2015 lalu.
(Football Espana)