
Sumber: Situs resmi PSSI.
SABANEWSINDO.com – Beberapa waktu lalu, Erick Thohir selaku Ketua PSSI berujar bahwa Shin Tae-yong akan dikirim ke Eropa guna mencari striker untuk memperkuat Timnas Indonesia. Pelatih asal Korea Selatan itu tampaknya sudah menetapkan tujuannya.
Sektor depan menjadi masalah yang nyata bagi TImnas Indonesia di sepanjang pagelaran Piala Asia 2023 kemarin. Rafael Struick, yang sejatinya seorang second striker, tak bisa jadi tumpuan utama.
Masalah serupa juga terjadi pada penyerang lokal seperti Hokky Caraka dan Dimas Drajad. Shin Tae-yong membutuhkan sosok penyerang dengan postur tubuh menjulang serta kokoh untuk menjadi penahan bola.
Hal itu terlihat jelas ketika Skuat Garuda bertemu Jepang dalam laga fase grup. Mantan arsitek Timnas Korea Selatan itu sampai memainkan seorang bek, yakni Elkan Baggott, sebagai penyerang tengah.
Piala Asia 2023 sudah berakhir. Kini Indonesia sedang menatap kompetisi bergengsi lainnya, yakni Piala Asia U-23 2024 yang juga digelar di Qatar pada bulan April mendatang. Shin Tae-yong butuh striker yang nantinya akan dinaturalisasi.
Baca juga: Eks Timnas Indonesia Era 90’an Kurang Nyaman dengan Konsep Naturalisasi
Projek naturalisasi sendiri bukan barang baru bagi PSSI dan Timnas Indonesia. Masih ada sejumlah nama yang sedang dalam proses pengubahan kewarganegaraan dalam daftar PSSI saat ini, dan sepertinya akan bertambah.
Sebab Erick Thohir menugaskan Shin Tae-yong untuk mencari pemain keturunan di Eropa. Media Korea Selatan melaporkan bahwa pria berusia 53 tahun tersebut akan menetap di Belanda selama dua pekan untuk menjalankan misinya.
“Terkait naturalisasi, saya berencana menyelediki pemain dengan darah Indonesia. Saya yakin ada pemain yang lebih baik,” kata Shin Tae-yong seperti yang dikutip media Korea Selatan, Best Eleven.
Ini bukan perkara mudah, sebab kebutuhan Shin Tae-yong terbilang spesifik. Bukan cuma masalah kualitas, ia juga ingin mendapatkan pemain naturalisasi yang rutin bermain bersama klubnya di Eropa.
“Setelah pemeriksaan lenbih lanjut, ini tidak mudah. Pemain keturunan jarang bermain untuk klubnya, tetapi lebih sering untuk Timnas Indonesia. Kami menghadapi tantangan besar dalam mengelola Timnas Indonesia,” pungkasnya.
(Best Eleven via Bola.com)