
Sumber: Getty/Filippo Alfero
SABANEWSINDO.com – Hasil yang kurang memuaskan diraih Juventus dalam laga lanjutan Serie A hari Kamis (31/10/24). Menghadapi Parma yang di atas kertas bisa dikalahkan, mereka justru cuma mampu membawa pulang satu poin karena bermain imbang 2-2.
Laga kali ini menunjukkan beberapa masalah yang harus segera diperbaiki oleh kubu Bianconeri. Pertahanan mereka terlihat rentan untuk ditembus, terbukti dari gol yang dicetak Enrico Del Prato kala pertandingan baru berjalan tiga menit.
Weston McKennie sukses membantu Juventus menyamakan kedudukan pada menit ke-31. Namun, tanpa pakai lama, mereka kebobolan lagi lewat aksi Simon Sohm hanya selang tujuh menit dari gol penyama skornya.
Untungnya Juventus masih bisa mengejar. Pada awal babak kedua, Timothy Weah membuat pendukung Bianconeri yang memadati Allianz Stadium bersorak lewat golnya, dengan memanfaatkan assist dari Francisco Conceicao.
Hasil imbang ini membuat Juventus tertahan di peringkat ke-4 dengan koleksi 18 poin, dan masih bisa turun jika Fiorentina dan Lazio mampu meraih kemenangan. Hasil ini juga membuktikan bahwa Juventus masih punya masalah untuk diselesaikan.
Baca juga: Bukan ke MU, Bintang PSG Ini Bakal Merapat ke Juventus
“Kami sering membiarkan Parma menciptakan peluang, kami juga bisa berbuat banyak, tapi kami harus menghindari memberikan mereka peluang mencetak gol lewat serangan balik,” kata Motta seperti dikutip Sky Sport Italia.
“Beberapa kali kami bermain dengan baik, terkadang tidak terlalu, kami harus bisa membenahi keseimbangan baik dan buruk. Kami harus menggunakan gaya bermain kami dalam periode lebih lama untuk membuat lawan tertekan secara konsisten,” lanjutnya.
“Kesalahan yang kami buat bersifat teknis di sepertiga akhir masing-masing ujung lapangan. Kami tidak boleh membiarkan tim lain melakukan serangan balik setiap kali melakukan kesalahan dan kehilangan bola.”
Motta juga sepakat bahwa timnya terlihat lebih lambat sekarang, tidak seperti di awal musim. “Saya sepenuhnya sepakat, kami harus langsung menjadi agresif untuk merebut bola dan tidak membiarkan mereka melakukan serangan balik.”
“Sebabnya adalah kami menyerang dengan banya pemain dan mencoba untuk membanjiri area penalti lawan. Harus mendesak lawan kembali dan tidak membiarkan mereka berlari 60-70 meter di depan kami,” pungkasnya.
(Sky Sport Italia)