Sumber: Reuters/Molly Darlington
SABANEWSID.com – Erik ten Hag mendapat tekanan yang semakin besar sebagai manajer Manchester United. Manajer asal Belanda itu pun mulai dibandingkan dengan pendahulunya, seperti Ole Gunnar Solskjaer, Jose Mourinho dan David Moyes.
Ten Hag mendapat pujian kala memimpin Setan Merah menjuarai Piala Liga musim lalu, mengakhiri puasa trofi selama enam tahun, sekaligus membawa mereka kembali ke Liga Champions dengan finis di peringkat ketiga.
Namun, keadaan telah mengalami penurunan sejak titik tertinggi di Wembley pada bulan Februari. Setan Merah mencatatkan awal terburuk mereka di musim Premier League dan kalah lebih banyak daripada yang mereka menangkan di semua kompetisi.
Mereka dikalahkan Manchester City dan kembali menderita kekalahan 3-0 pada pertengahan pekan ini dari Newcastle di Old Trafford.
Mereka kini tersingkir dari Piala Liga, terpaut delapan poin dari empat besar Premier League, dan harapan mereka untuk lolos dari grup Liga Champions masih diragukan setelah kalah dari Bayern Munich dan Galatasaray.
Meski begitu, Ten Hag tetap yakin dirinya bisa membalikkan keadaan.
“Saya memahaminya ketika hasil kurang mengesankan, maka merupakan hal yang logis jika mereka mempertanyakan hal itu,” kata Ten Hag setelah tersingkir dari Piala Liga.
“Tapi saya yakin saya bisa melakukannya. Di semua klub saya, saya sudah melakukannya dan juga tahun lalu di sini saya juga melakukannya, tapi saat ini kami berada di posisi yang buruk. Saya bertanggung jawab untuk itu. Saya melihatnya sebagai sebuah tantangan.
“Saya seorang pejuang dan saya berada dalam pertarungan itu dan saya harus memastikan bahwa saya berbagi tanggung jawab dengan para pemain saya dan bahwa kami tetap bersatu dan berjuang bersama, dan mendapatkan hasil yang lebih baik.
“Saya tahu itu tidak selalu naik dan kami mengalami banyak kemunduran musim ini sejauh ini, tapi Anda juga harus menghadapinya dan itu tidak pernah menjadi alasan,” lanjutnya.
“Saya sudah katakan sebelumnya, saya tahu ketika ada kemunduran, rutinitasnya tidak sama, tapi meski begitu Anda harus mendapatkan hasil. Tentu saja, Minggu dan malam ini jauh dari itu jadi kami harus melakukan segalanya dengan benar dan pada level tertentu, pada level minimum untuk memenangkan pertandingan.”
Baca juga: Ten Hag Cuma Punya Waktu Sampai Natal untuk Selamatkan Kariernya di Manchester United
Ten Hag, bagaimana pun juga, harus menghadapi kekecewaan pendukung klub. Tak sedikit yang mulai membandingkan dirinya dengan mantan manajer Manchester United lainya.
Kami telah melihat lebih dekat bagaimana rekor Manchester United musim ini dibandingkan dengan tiga kali terakhir petinggi klub mengambil keputusan untuk menyingkirkan manajer permanen pada pertengahan musim – 2021-22 di bawah asuhan Solskjaer (dipecat pada November), 2018- 19 di bawah Mourinho (dipecat pada bulan Desember) dan 2013-14 di bawah Moyes (dipecat pada bulan April).
Erik ten Hag (2023-24)
Main: 15
Menang: 7
Imbang: 0
Kalah: 8
Gol memasukkan: 20
Gol kemasukan: 26
Clean sheets: 4
Rata-rata kemenangan: 46%
Rata-rata kekalahan: 53%
Gol per pertandingan: 1.33
Gol kemasukan per pertandingan: 0.76
Ole Gunnar Solskjaer (2020-21)
Main: 17
Menang: 7
Imbang: 3
Kalah: 7
Gol memasukkan: 28
Gol kemasukan: 29
Clean sheets: 2
Rata-rata kemenangan: 41%
Rata-rata kekalahan: 41%
Gol per pertandingan: 1.64
Gol kemasukan per pertandingan: 1.70
Jose Mourinho (2018-19)
Main: 24
Menang: 10
Imbang: 6
Kalah: 8
Gol memasukkan: 38
Gol kemasukan: 35
Clean sheets: 5
Rata-rata memasukkan: 41%
Rata-rata kemasukan: 33%
Gol per pertandingan: 1.58
Gol kemasukan per pertandingan: 1.45
David Moyes (2013-14)
Main: 51
Menang: 26
Imbang: 10
Kalah: 15
Gol memasukkan: 86
Gol kemauskan: 54
Clean sheets: 21
Rata-rata kemenangan: 50.9%
Rata-rata kekalahan: 29.4%
Gol per pertandinan: 1.68
Gol kemasukan per pertandingan: 94%