
Sumber: Instagram @shintaeyong7777
SABANEWSINDO.com – Timnas Indonesia U-23 gagal meraih kemenangan pada laga perdana fase grup Piala Asia U-23. Mereka dipaksa bertekuk lutut oleh sang tuan rumah, Qatar, dengan skor 0-2 pada hari Senin (15/4/2024) kemarin.
Pertandingan yang digelar di Jassim Bin Hamad Stadium itu diwarnai dengan kontroversi. Nasrullo Kabirov menjadi pusat perhatian lantaran membuat sejumlah keputusan yang dinilai lebih menguntungkan tuan rumah.
Paling ramai dibicarakan adalah soal pelanggaran yang dilakukan Ivan Jenner terhadap pemain Qatar, Saifeldeen Hassan Fadlalla, pada menit ke-46. Pelanggaran itu membuat dirinya menerima kartu kuning kedua dari wasit.
Namun dalam tayangan ulang, terlihat bahwa sang gelandang tidak melakukan pelanggaran keras yang pantas diganjar kartu kuning. Kejadian itu cukup membuat pendukung setia Timnas Indonesia berang maksimal terhadap wasit.
Shin Tae-yong selaku arsitek Skuat Garuda Muda menunjukkan rasa kecewanya terhadap kepemimpinan wasit. Ia kesal karena Nasrullo Kabirov tidak melakukan pengecekan lewat VAR untuk membuat keputusan.
Baca juga: Meroket di Peringkat FIFA, Erick Thohir Bidik 100 Besar Buat Timnas Indonesia
“Kartu merah yang kami terima, tidak ada kontak sama sekali. Kartu merah itu, saya tidak mengerti. Mengapa anda tidak berpikir untuk menggunakan VAR?” kata Shin Tae-yong seperti dikutip Bola.com.
Hadiah penalti yang diterima Qatar, hasil dari pelanggaran yang dilakukan Rizky Ridho terhadap Mahdi Salem Almebaja, juga jadi penarik perhatian. Itu adalah momen kunci yang membuat Timnas Qatar U-23 bisa mengungguli Timnas Indonesia.
Shin Tae-yong kesal karena apa yang terjadi tidak sesuai dengan seharusnya. “Penalti tersebut seharusnya pelanggaran untuk kami, bukan untuk lawan. Saya tidak mengerti, benar-benar gagal memahaminya, lanjutnya.
Lebih lanjut, Shin Tae-yong mengaku sempat mencium aroma tidak sedap ketika timnya dibawa ke stadion. Ia merasa bus yang mengangkut Marselino Ferdinan dkk dibawa berputar-putar hingga gagal tiba di stadion tepat waktu.
“Saat kami ke stadion untuk sesi familiarisasi, kami butuh waktu tujuh menit. Ketika ingin bermain kami menempuh 25 menit. Bus pergi ke tempat lain. Akhirnya, kami butuh waktu 25 menit untuk sampai di stadion,” pungkasnya.
(Bola.com)